Om Jay Guru Inspiratif Yang Produktif Menulis
August 24, 2017
IKA UNJ PEDULI KORBAN KEBAKARAN KEBON PALA (Minggu 27 Agustus 2017)
August 29, 2017

Nanda Hamdalah Chef Ganteng Lulusan Tata Boga UNJ, Penemu Resep Kuliner untuk Anak-anak Autis

Sebagian masyarakat mengenalnya dengan nama Chef Nanda Young. Namun, dirinya bukan sekedar juru masak biasa, Nanda fokus dalam pembuatan makanan yang cocok untuk anak berkebutuhan khusus. Dirinya sempat dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor di bidang pangan oleh Pemerintah Kota Bekasi tahun 2014. Nanda Hamdalah adalah alumni S1 UNJ dari Program Studi Pendidikan Tata Boga (Fakultas Teknik)  angkatan 2008. Dirinya tercatat di situs DIKTI sebagai lulusan UNJ tahun 2013.

Pria kelahiran 4 September 1990 semula tertarik menyelami dunia autis setelah menyaksikan  tayangan video music Malaikat Juga Tahu (Dewi Lestari). Di video musik itu, Lukman Sardi berperan apik menjadi seorang autis. “Dari sanalah saya jadi ingin tahu bagaimana sebenarnya kehidupan anak-anak autis,” tutur sarjana jurusan Tata Boga Universitas Negeri Jakarta  yang saat SD juga pernah punya teman autis.

Saat itu Chef Nanda masih bekerja di sebuah hotel berbintang pada tahun 2010.  Dia memikirkan tentang produk pastry yang selalu menggunakan gluten free. “ Saya mencoba membuat resep baru di tempat kerja. Jadi beres kerja saya nggak pulang ke rumah. Malah otak-atik resep sampai pagi,” ujar pemenang pertama Oxone Battle Chef ini.

Resepnya mulai dari  roti gluten free, scones gluten free,  sampai cake gluten free. Setelah berhasil, Chef Nanda membawa hasil uji coba ke dosen pembimbing. “Masih banyak gagal. Malah saya sering bolak-balik bikin yang baru atau merevisi resep. Sempat stress gara-gara nggak maksimal juga hasilnya karena memang susah menggantikan tepung terigu biasa untuk pembuatan cake atau roti digantikan tepung non-gluten,” kata pemilik akun instagram @nandayoung_ ini.

Lantaran harus fokus skripsi, Nanda kemudian berhenti bekerja. Barulah kemudian dia membuat  formula gluten free dengan komposisi tapioka, tepung maizena, dan tepung beras dengan komposisi 1:1:1.

 

“Formula itu saya aplikasikan ke pancake. Dan pancake itu hasilnya nggak maksimal. Cepat kering, bantet dan rasanya kurang enak,”  kenang Host Cooking Show di salah satu saluran TV ini.

Chef yang selalu berusaha memberi aksen batik pada kostumnya ini kemudian melakukan penelitian di Rumah Autis Jatiasih Bekasi. Dia mencari makanan kesukaan anak-anak di rumah tersebut.  Akhirnya, Chef Nanda berhasil menemukan produk Gluten Free dorayaki dengan dua bahan isian berbeda, yakni kacang merah dan ubi ungu. “Saya kemudian cobakan  ke anak-anak autis dan mereka ternyata sangat suka.  Terutama yang isian ubi ungu,” paparnya.

Tujuan Chef nanda membuat makanan untuk anak autis lantaran susah menemukan kudapan sehat untuk mereka.  “Kalaupun ada harganya mahal dan hanya ada di tempat tertentu. Rasanya juga nggak enak-enak banget,” tambah pria yang selalu disambut gembira kedatangannya di rumah autis itu.

Respon dari para orangtua anak-anak autis pun sangat positif dengan upaya Nanda.  “Intinya produk saya itu bebas tepung terigu, bebas gula, bebas ragi dan bebas susu. Karena anak-anak autis tidak boleh mengonsumsi unsur-unsur tersebut,” jelas chef yang beberapa kali merayakan ulangtahunnya bersama anak-anak autis ini.

 

Saking cintanya Nanda kepada anak-anak autis, dia pernah membuat cake bentuk hati berwarna biru saat Hari Kepedulian Autis Dunia, dan dibagikan ke rumah-rumah anak autis langsung.  “Tahun ini bareng  Yayasan Autisma Indonesia dan komunitas lainnya saya hadir di acara  ‘biruin Monas’. Kami menyalakan lampion biru di sekitar Monas. Dan  Monasnya sendiri diberi cahaya biru,” tutupnya.

 

Please Login to Comment.

*